Site Overlay

MENGHADAPI QUARTER LIFE CRISIS

Saat sejak kecil pasti setiap orang akans elalu punya mimpi untuk jadi orang yang sukses. Biasanya anak kecil lebih banyak membayangan ketika besar ingin jadi seperti apa. Tapi semakin kita besar, sepertinya bayangan tersebut akan jauh dengan kenyataan yang ada.

Ketika memasuki tahap dewasa yaitu dimana memasuki perkuliahan, biasanya kegalauan akan hidup akan diuji. Dimulai dari bingung mau masuk jurusan apa, apakah langsung kerja, atau bingung mau kuliah dimana. Berbagai macam pertanyaan akan selalu ada di benak setiap manusia. Karena dari dulu kita selalu memikirkan bahwa memasuki usia sekitar 20-an, semua jalan kesuksesan sudah ada ditangan, padahal kenyataannya tidak dmeikian.

Memasuki usia 20 akan lebih banyak beban hidup yang harus dibawa. Tekanan demi tekanan harus dilewati, walaupun perjalanan hidup masih panjang, namun disini lah merupakan awal dari kehidupan yang sebnarnya. Memasuki tahap quarter life crisis ini, setiap orang pasti akan berhadapan dengan ekspektasi dan realita.

Nah apasih sebenernya quarter life crisis itu?

Quarter life crisis merupakan masa dimana seseorang saat memasuki usia sekitar 20-25 tahunan akan mempertanyakan hidupnya.

Contoh sederhananya seperti ‘mau jadi apa?’ atau ‘apa yang harus saya lakukan?’ ‘apa tujuan hidup saja?’ dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Pada masa ini merupakan puncak kedewasaan seseorang. Karena orang akan meninjau kembali apa yang telah ia lakukan sebelumnya di masa lalu dan memikirkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Misalnya ada kalanya saat kita masih kuliah, namun teman sudah ada yang menikah atau bahkan punya anak, disisi lain misalnya ada yang menganggur, atau misalnya ada yang sudah sukses dengan bisnis, atau sudah ada yang dapat kerja enak gaji yang besar, dan masih banyak hal. Namun jangan jadikan alasan tersebut untuk membuat kamu jadi insecure.

Quarter life crisis juga ga memandang dari sisi ekonomi, apakah si A kaya, si B miskin. Ekonomi tidak menjamin kebahagiaan seseorang, karena semua orang akan mendapatkan kondisi seperti ini namun di jalan yang berbeda.

Pada dasarnya, kita aga bisa membandingkan standar kehidupan atau goals hidup setiap orang. Semuanya pasti ada waktunya sendiri-sendiri.

Orang yang sedang terkena fase ini cenderung tidak akan bersyukur karena dia terlalu membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Akan selalu ada dimana omongan orang lain akan menjadi nempel di dalam pikiran mulai dari pertanyaan-pertanyaan yang basic namun sarkas.

Sesimple itu pun bisa bikin orang down ketika sedang berada di fase ini, padahal mungkin orang tersebut ga ada intension buat bikin kita down tapi memang tekanan itulah yang bisa membuat kita menjadi baper.

Kita ga bisa mengontrol perlakuan orang lain terhadap kita maupun omongan-omongan pedas yang mereka keluarkan, tapi kita bisa menutup telinga dan harus bisa menyaring yang baik-baiknya saja.

Lalu bagaimana caranya keluar dari fase tersebut?

Hilangkan semua pikiran negatif, karena waktu luang yang digunakan untuk hal yang tidak penting sebenarnya bisa kamu pakai untuk berfikir gimana caranya bangkit dari fase ini.

Selain itu kamu bisa menyibukan diri ke hal yang lebih positif, selain itu kamu pun butuh lingkungan yang bisa menerima kamu setidaknya bisa mendengarkan keluh kesah atau pendapat.

Kemudian kita pun harus punya bisa membuktikan kepada orang lain bahwa kita akan berada di masa pencapaian kita entah itu waktunya kapan, yang jelas jangan pernah membandingan pencapaian orang lain dan diri sendiri, hal itu akan membuat boomerang dalam hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *